Nama : Hafiz Alresky
Kelas : 1KB07
Dosen : Ahmad Nasher
1. Kalimat Deduktif
Kalimat Deduktif adalah jenis paragraf yang dikembangkan dengan pola deduksi. Pengertian kalimat deduktif dapat diartikan sebagai kalimat dalam sebuah paragraf dimana letak pikiran utamanya terdapat di awal kalimat. Pada umumnya kalimat deduktif ini bersifat umum kemudian akan diikuti oleh penjelasan khusus yang mengacu pada kalimat umum pertama tadi. Penjabaran kalimat pengikut setelah kalimat utama biasanya terdiri atas contoh-contoh dari kata kunci di kalimat pertama, rincian khusus, bukti spesifik maupun kalimat penjelas.
Ciri-Ciri Kalimat / Paragraf Deduktif
- Letak pikiran utama di awal kalimat (sangat mudah terlihat)
- Paragraf deduktif memiliki alur dari pernyataan umum kemudian diikuti oleh penjelasan yang bersifat memaparkan kalimat pertama
Contoh 1
Pendidikan adalah sebuah modal penting masyarakat sekarang. Pendidikan sendiri merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan baik intrinsik dan juga ekstrinsik. Faktor instrinsik tercipta ketika selama menempuh Pendidikan, maka para peserta didik diharapkan akan memiliki jiwa dan karakteristik sebagai sumber daya manusia berkualitas. Sedangkan faktor ekstrinsik merupakan bentuk luaran atas hasil selama menempuh Pendidikan. Oleh sebab itu Pendidikan masa kini juga telah menjadi salah satu dasar penting masyarakat untuk terjun di dunia masyarakat serta untuk di dunia kerja.
Pada paragraf di atas tentu kata kuncinya adalah Pendidikan adalah sebuah modal penting masyarakat sekarang. Hal ini bisa terlihat dari pola paragraf yang bermodel umum, khusus, khusus, khusus. Terlihat dari bagaimana kalimat kedua dan seterusnya dalam upaya menjelaskan kalimat pertama, oleh sebab itu paragarf di atas merupakan model deduktif.
Contoh 2
Internet adalah alternatif dalam berbisnis modern. Melalui jaringan dan akses serta cakupan yang luas berbisnis dengan memanfaatkan internet merupakan alternatif solutif. Sehingga melalui internet, kesempatan berdagang dan berbisnis menjadi lebih mudah dan praktis. Sebagai contoh melalui internet, pedagang dapat terhubung dengan pembeli di luar areanya. Selain itu internet juga membuat praktis berdagang tanpa pengeluaran modal yang besar.
Pada paragraf diatas merupakan contoh dari paragraf deduktif. Hal ini terlihat dari polanya dari umum ke khusus. Terlihat dari inti pokok paragraf yang ingin menjelaskan bahwa internet adalah alternatif dalam berbisnis modern.
2. Kalimat Induktif
Kalimat Induktif merupakan model paragraf dengan bentuk induksi, dimana kebalikan dari kalimat deduktif kalimat induktif ini memiliki pola dari khusus ke umum. Sehingga dapat disimpulkan paragaf dengan model kalimat induktif adalah kalimat pada tulisan dengan model pokok pikirannya yang berada di akhir paragraf / akhir kalimat.
Ciri-Ciri Kalimat / Paragraf Induktif
- Kalimat awal berupa penjelasan khusus
- Pada akhir kalimat merupakan kalimat kesimpulan atas rentetan penjelasan pada kalimat pertama, kedua dan seterusnya
- Kesimpulan merupakan kalimat utama yang terdapat di akhir Paragraf.
- Kalimat penjelas yang ada sebelum kalimat utama (kalimat penjelas berada di awal) berupa fakta, rincian khusus, contoh atau bukti- bukti yang mendukung pernyataan di akhir kalimat.
Contoh Paragraf Induktif
Peralihan musim seperti sekarang bisa menjadi indikasi terjadinya bencana alam. Beberapa waktu yang lalu di bandung tentu kita mendengar terdapat banjir bandang memperhatikan. Kota Bandung meskipun pembangunannya modern namun hal itu dapat menjadi tempat banjir tahunan. Hal tersebut tentunya bukan karena pemerintah yang belum optimal namun itu juga menjadi tanggung jawab serta peran warga di perkotaan. Hal ini terlihat dari bagaimana respond an kebiasaan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Apabila tidak disertai dengan kesadaran warga meskipun pemerintah berusaha meminimalisir banjir, akan tetap percuma. Oleh sebab itu banjir yang terjadi di perkotaan sudah pasti berasal dari penyumbatan aliran air karena kurang kesadaran warga ketika membuang sampah.
Pada paragraf diatas, ditunjukkan bagaimana sebuah fakta dan penjabaran khusus di awal dan berakhir dengan sebuah kesimpulan diakhir. Oleh sebab itu dapat dikatakan itu adalah Paragaraf Induktif.
KESIMPULAN :
- paragraf adalah beberapa kalimat yang memiliki keterkaitan dan membentuk kesatuan gagasan yang terdiri dari gagasan pokok dan kalimat penjelas
- KBBI mengatakan paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan
- Deduktif adalah jenis paragraf yang dikembangkan dengan pola deduksi. Pola deduksi bermula dengan pemaparan hal yang bersifat umum kemudian menyebarkan hal khusus. Paragraf deduktif bisa dilihat dari letak kalimat utamanya yang berada di awal alinea.
- Beberapa ciri paragraf deduktif yang bisa dilihat antara lain:
- Letak ide pokok di awal paragraf
- Ide pokok tersusun dari pernyataan umum diikuti dengan penjelasan yang bersifat khusus
- Induktif adalah jenis paragraf yang dikembangan dengan pola induksi, yaitu dengan memaparkan hal- hal yang khusus kemudian disimpulkan dengan hal yang lebih umum. Dapat dikatakan paragraf induktif adalah paragraf yang letak kalimat utamanya di akhir paragraf. Pola pengembangan paragraf induksi dapat dilakukan dengan cara generalisasi, sebab-akibat, akibat-sebab, dan analogi
Sumber : markijar.com
Kalimat Deduktif dan Induktif

Biografi dan Profil W.R Supratman
Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama 3 tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.
Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Ujungpandang, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Menciptakan Lagu Indonesia Raya
W.R. Soepratman tidak beristri serta tidak mempunyai anak angkat. Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.
Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kodisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.
Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan. Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM jalan Embong Malang - Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok-Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.
Naskah asli lagu Indonesia Raya
Hari kelahiran Soepratman, 9 Maret, oleh Megawati saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Namun tanggal kelahiran ini sebenarnya masih diperdebatkan, karena ada pendapat yang menyatakan Soepratman dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pendapat ini – selain didukung keluarga Soepratman – dikuatkan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007.Biografi W.R. Soepratman
Biografi Jenderal Sudirman. Dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Ia merupakan salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution.

Profil dan Biografi Jendral Besar Sudirman
Banyak buku yang mengisahkan mengenai biografi dan profil dari Jenderal Sudirman. Disbutkan bahwa beliau ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem.Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).
Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.
Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.
Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat.
Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.
Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.

Menjadi Panglima Tentara Indonesia
Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.
Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.
Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.
Melakukan Perang Gerilya
Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.
Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun. Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.
Berikut Ini Data Lengkap Tentang Jendral Besar Soedirman
Pengalaman Pekerjaan:
- Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
- Pengalaman Organisasi:
- Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
- Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan:
- Pahlawan Pembela Kemerdekaan
Biografi Jendral Soedirman
NAMA : HAFIZ ALRESKY
KELAS : 1KB07
DOSEN : AHMAD NASHER
Pengertian Diksi
Diksi merupakan pemilihan kata yang paling tepat untuk menyampaikan suatu maksud. Pemilihan kata yang tepat bertujuan untuk memberikan kesan serta pesan agar mudah diterima dengan lawan bicara. Diksi sangat berguna dalam penulisan karya tulis seperti puisi, novel, laporan dan sebagainya.
Fungsi Diksi
Adapun untuk fungsi diksi sendiri yaitu:
- Membuat orang yang membaca ataupun mendengar karya sastra menjadi lebih faham mengenai apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.
- Mencegah salah pemahaman.
- Membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
- Melambangkan ekspresi yang ada dalam gagasan secara verbal “tertulis ataupun terucap”.
- Membentuk ekspresi ataupun gagasan yang tepat sehingga dapat menyenangkan pendengar ataupun pembacanya.
Jenis Diksi
Menurut Chaer makna kata dapat dibedakan menjadi:
Makna Denotasi dan Makna Konotasi
Makna denotasi ialah makna yang sesungguhnya dari kata tersebut, sedangkan makna konotasi ialah makna yang bukan makna sesungguhnya dari makna kata itu sendiri.
Contoh:
- Ibu membuatkan aku kopi yang sangat nikmat pagi ini (Denotasi kata kopi menunjukan makna sebenarnya).
- Kulit Budi terlihat seperti kopi (konotasi negatif, kata kopi menunjukan makna yang tidak sebenarnya dan berupa sindiran).
- Dewi memang cantik seperti matahari (konotasi positif kata matahari menunjukan makna yang tidak sebenarnya dan berupa sanjungan).
Makna Leksikal Dan Gramatikal
Leksikal ialah makna kata yang berdasarkan kamus, leksikal dapat disebut juga leksikon atau makna kata berdefinisi. contoh: miskin ialah ketika seseorang tidak mampu dan kekurangan secara finansial.
Gramatikal ialah makna kata yang terjadi karena:
- Terdapat imbuhan contoh: pelukis, lukisan, dilukis, pelukisan.
- Diletakan pada frase, klausa atau diberi intonasi.
Contoh:
Pelukis itu merupakan orang yang sangat terkenal (pe- pada lukis menunjukan orang).
Makna Referensial Dan Nonreferensial
Makna referensial ialah makna kata yang menunjukan sesuatu misalnya “kantor Bupati terletak di jalan Jend, Sudirman “kata jalan menunjukan kepada sesuatu tempat”. Sedangkan makna nonreferensial ialah makna kebalikan dari referensial.
Contoh:
“Aku baru saja pulang dari kantor bupati akan tetapi aku lupa alamatnya” “kata tetapi mengacu pada kata nonreferensional”.
Makna Konseptual Dan Asosiatif
Makna konseptual ialah makna kata yang mendeskripsikan kata itu sendiri. Contoh: “minggu ini aku dan keluarga akan berlibur ke puncak” (kata puncak mendeskripsikan daerah dataran tinggi). Sedangkan makna asosiatif ialah makna kata yang menunjukan hubungan terkait dengan makna kata tersebut.
Contoh:
“Hati orang itu sangatlah putih” (kata putih memiliki hubungan dengan bersih dan suci).
Makna Kata Dan Makna Istilah
Makna kata ialah makna yang akan terlihat maknanya ketika terdapat pada suatu kalimat. Contoh: kata “panas” dapat menunjukan cuaca dapat menunjukan suhu, dapat menunjukan benda. Sedangkan makna istilah ialah makna kata yang bersifat mutlak karena hanya digunakan pada bagian-bagian tertentu saja.
Contoh:
Kata “panas” hanya dapat digunakan untuk mengungkapkan suatu makanan yang baru saja matang.
Makna Kias Dan Makna Lugas
Makna kias ialah kata yang digunakan untuk mengutarakan makan secara tidak langsung, Contoh: gadis itu seperti bunga yang bermekaran. “Kata bunga menunjukan makna cantok jelita”. Makna lugas ialah jelas atau makna yang berlawanan dengan makna kias.
Contoh:
Bunga di halaman rumahku sangatlah indah “kata bunga menunjukan makna yang jelas”.
Kesimpulan : Kreativitas dalam memilih kata merupakan kunci utama pengarang dalam menulis gagasan atau ungkapan. Penguasaan dalam pengolahan kata juga merupakan kunci utama dalam menghasilkan tulisan yang indah, dapat dibaca serta ide yang ingin disampaikan penulis dapat dipahami dengan baik oleh para pembaca.
Pengertian Kalimat DIKSI
Sumber : http://www.dosenpendidikan.com/

